Mencintai Adik Tiriku
Malam itu hujan turun pelan di atap rumah. Bunyi rintiknya membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku duduk di ruang tamu sambil menatap layar laptop yang sejak satu jam lalu tidak benar-benar kubaca. Pikiranku ke mana-mana.
“Aku bikin teh. Mau?” suara lembut itu memecah lamunanku.
Aku menoleh. Nadira berdiri di ambang dapur memakai sweater abu-abu kebesaran dan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi.
“Iya… boleh,” jawabku singkat.
Dia tersenyum kecil lalu kembali ke dapur.
Sudah hampir tiga tahun Nadira tinggal serumah denganku sejak ayahku menikahi ibunya. Awalnya semuanya terasa canggung. Kami seperti dua orang asing yang dipaksa menjadi keluarga dalam semalam. Tapi waktu mengubah banyak hal.
Aku mulai hafal kebiasaan-kebiasaannya. Cara dia tertawa sambil menutup mulut. Cara dia selalu lupa menaruh charger. Cara dia diam saat sedang sedih. Dan tanpa sadar, aku mulai menunggu suara langkahnya setiap sore.
Itulah masalahnya.
Aku terlalu memperhatikannya.
“Astaga, kenapa melamun lagi?” Nadira meletakkan secangkir teh di meja lalu duduk di sofa sebelahku.
“Capek kerja,” jawabku berbohong.
Padahal bukan pekerjaan yang membuat kepalaku penuh. Tapi dia.
Nadira menatapku beberapa detik. “Kamu akhir-akhir ini aneh.”
“Aneh gimana?”
“Sering bengong. Terus kalau aku ngomong suka salah fokus.”
Aku tertawa kecil untuk menutupi gugup. “Perasaan biasa aja.”
Dia menyipitkan mata curiga lalu tertawa pelan.
Aku membuang pandangan ke luar jendela. Hujan masih turun. Dalam hati aku berharap malam cepat berlalu supaya aku bisa pergi tidur dan berhenti memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak kupikirkan.
Karena bagaimanapun juga, Nadira adalah adik tiriku.
Walaupun kami tidak punya hubungan darah, tetap saja rasanya salah.
Hari Minggu pagi rumah sedang kosong. Ayah dan ibu pergi menghadiri acara keluarga di luar kota. Tinggal aku dan Nadira di rumah.
Aku sedang memperbaiki rak buku di ruang tengah ketika tiba-tiba listrik mati.
“Ka!” teriak Nadira dari kamarnya.
“Iya?”
“Aku takut sumpah!”
Aku tertawa. “Masa mati lampu doang takut?”
“Di kamar gelap!”
Aku berjalan ke kamarnya sambil membawa senter ponsel. Saat pintu kubuka, Nadira langsung mendekat sambil memegangi lenganku.
“Nah kan cuma mati lampu,” kataku.
“Tetep aja serem.”
Wajahnya begitu dekat. Untuk sesaat aku bisa mencium aroma sampo dari rambutnya. Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku segera mundur sedikit.
“Kayaknya MCB turun,” kataku cepat-cepat.
Aku keluar menuju panel listrik, berusaha mengatur napas sendiri.
Kenapa aku jadi seperti ini?
Dulu aku santai saja dekat dengannya. Tapi semakin lama, perasaan itu tumbuh diam-diam seperti tanaman liar yang sulit dicabut.
Dan aku takut suatu hari semuanya jadi kacau.
Malam harinya, Nadira mengetuk pintu kamarku.
“Masuk aja.”
Dia masuk sambil membawa semangkuk mi instan.
“Aku bikin dua. Kamu belum makan kan?”
Aku mengangguk.
Dia duduk di lantai kamar sambil menyerahkan satu mangkuk padaku.
“Kayak anak kos ya,” katanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa kecil.
Beberapa menit kami makan dalam diam sampai akhirnya Nadira bicara pelan.
“Kak…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pindah rumah… kamu bakal sedih nggak?”
Aku mengernyit. “Pindah ke mana?”
“Mungkin ikut kerja di luar kota.”
Aku terdiam beberapa detik terlalu lama.
“Ya sedih lah,” jawabku akhirnya.
“Emang kenapa sedih?”
Karena rumah ini bakal terasa kosong tanpa kamu.
Tapi tentu saja kalimat itu hanya berhenti di kepala.
“Kamu kan nyebelin. Kalau nggak ada jadi sepi,” jawabku bercanda.
Nadira tersenyum tipis, tapi matanya seperti sedang mencari sesuatu di wajahku.
“Aku kira kamu nggak peduli sama aku.”
Aku menatapnya heran. “Kok ngomong gitu?”
“Soalnya kamu sering menjauh akhir-akhir ini.”
Dadaku terasa sesak.
Aku menjauh justru karena terlalu peduli.
“Nadira…” aku menarik napas panjang. “Kadang ada hal yang lebih baik disimpan sendiri.”
Dia memiringkan kepala. “Contohnya?”
Aku tertawa hambar. “Rahasia.”
Dia diam cukup lama.
Lalu tiba-tiba berkata pelan, “Kalau rahasianya tentang aku gimana?”
Aku langsung menatapnya.
Jantungku seperti berhenti sesaat.
“Nadira…”
“Aku nggak bodoh, Kak,” katanya sambil tersenyum kecil namun matanya terlihat gugup. “Aku tahu cara kamu lihat aku akhir-akhir ini.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Aku berdiri lalu berjalan ke jendela kamar, mencoba menenangkan pikiran.
“Ini salah,” kataku lirih.
“Kenapa salah?”
“Kita keluarga.”
“Kita nggak sedarah.”
“Tetap aja…”
Nadira ikut berdiri. “Kalau memang nggak ada perasaan, kamu pasti bisa bilang sekarang.”
Aku menutup mata sebentar.
Inilah momen yang paling kutakuti.
Karena sekali aku jujur, semuanya mungkin berubah.
“Aku sayang sama kamu,” ucapku akhirnya pelan. “Dan itu yang bikin aku takut.”
Sunyi.
Yang terdengar hanya suara kipas angin berputar pelan.
Aku memberanikan diri menoleh.
Nadira berdiri diam dengan mata berkaca-kaca.
“Aku kira cuma aku yang ngerasa begitu,” katanya lirih.
Aku mengusap wajah frustrasi. “Harusnya ini nggak terjadi.”
“Tapi terjadi.”
“Nanti kalau orang tua tahu?”
“Kita belum melakukan hal aneh,” katanya sambil tertawa kecil meski matanya masih basah. “Kita cuma jujur soal perasaan.”
Aku menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, dadaku terasa lebih ringan.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tapi karena akhirnya aku tidak sendirian memikul perasaan itu.
Hari-hari setelah malam itu terasa berbeda.
Kami tidak tiba-tiba berubah jadi pasangan romantis seperti di film. Tidak ada adegan dramatis saling menggenggam tangan setiap saat. Justru kami jadi lebih hati-hati.
Lebih banyak bicara.
Lebih banyak memikirkan apa yang benar dan apa yang hanya dorongan emosi sesaat.
Suatu sore kami duduk di teras rumah sambil melihat matahari turun perlahan.
“Aku takut semuanya rusak,” kataku jujur.
Nadira mengangguk. “Aku juga.”
“Kalau orang tua kecewa?”
“Kita hadapi pelan-pelan.”
Aku menoleh padanya. “Kamu yakin?”
Dia tersenyum kecil. “Perasaan nggak selalu bisa dipilih. Tapi cara kita menjalani perasaan itu bisa dipilih.”
Kalimat itu membuatku diam cukup lama.
Mungkin benar.
Cinta kadang datang di waktu dan tempat yang rumit. Tidak selalu hitam putih. Tidak selalu mudah dijelaskan.
Yang penting bukan hanya tentang memiliki seseorang.
Tapi juga tentang menjaga agar perasaan itu tidak merusak orang-orang yang kita sayangi.
Aku memandang langit senja yang perlahan berubah jingga.
Dan untuk pertama kalinya, aku berhenti membenci diriku sendiri karena mencintai Nadira.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar