Kamis, 21 Mei 2026

Milikku Milikmu Milik Kita

Milikku Milikmu Milik Kita


Hujan turun perlahan di sudut kota Bandung sore itu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kendaraan yang mulai menyala satu per satu. Di sebuah kedai kopi kecil dekat taman kota, Alana duduk sambil memandangi jendela. Jemarinya menggenggam cangkir cokelat hangat, tapi pikirannya jauh lebih dingin dari udara di luar.

Sudah hampir tiga bulan sejak ia dan Arga memutuskan untuk “menjaga jarak.”

Bukan putus. Tapi juga bukan bersama seperti dulu.

Hubungan mereka aneh. Terlalu banyak cinta untuk saling meninggalkan, tapi terlalu banyak ego untuk benar-benar bertahan.

Pintu kedai terbuka.

Alana menoleh pelan.

Arga datang dengan jaket hitam favoritnya. Rambutnya sedikit basah terkena hujan. Tatapan mereka bertemu beberapa detik yang terasa terlalu panjang.

“Masih suka duduk dekat jendela ternyata,” ucap Arga sambil tersenyum tipis.

Alana berusaha biasa saja.
“Masih suka datang telat juga ternyata.”

Arga tertawa kecil lalu duduk di depannya. Hening sejenak. Hanya suara hujan dan denting sendok dari meja lain yang terdengar.

“Aku kangen,” kata Arga akhirnya.

Kalimat sederhana itu langsung membuat pertahanan Alana runtuh perlahan.

“Aku juga,” jawabnya lirih.

Mereka saling diam lagi. Tapi kali ini diam yang hangat.

Arga memandangi wajah Alana lekat-lekat.
“Aku baru sadar sesuatu selama kita jauh.”

“Apa?”

“Aku terlalu sibuk mikirin mana yang milikku dan mana yang milikmu.”

Alana mengernyit kecil.

“Aku selalu pengen kamu ngerti hidupku, ngerti mimpiku, ngerti caraku. Tapi aku lupa... hubungan itu bukan soal siapa yang paling dipahami.”

“Terus soal apa?” tanya Alana pelan.

Arga tersenyum.
“Soal belajar bikin semuanya jadi milik kita.”

Hati Alana seperti disentuh lembut oleh kalimat itu.

Dulu mereka sering bertengkar soal hal kecil. Arga terlalu fokus kerja sampai lupa memberi kabar. Alana terlalu sering memendam kecewa sampai akhirnya meledak. Mereka sama-sama keras kepala.

Padahal di balik semua itu, keduanya cuma takut kehilangan.

“Aku capek bertahan sendiri,” kata Alana jujur.

“Aku juga capek bikin kamu merasa sendirian.”

Hujan semakin deras di luar. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hati mereka terasa lebih tenang.

Arga mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah kamera analog tua.

Alana langsung mengenalinya.

“Kamu masih simpan?”

“Masih. Semua foto kita juga masih ada.”

Alana tersenyum kecil. Kamera itu saksi banyak hal. Foto pertama mereka di Malioboro. Foto Alana tertawa sambil makan bakso. Foto sunset di pantai yang gagal bagus karena lensanya berembun.

Banyak kenangan sederhana. Tapi justru itu yang paling sulit dilupakan.

Arga lalu berkata pelan,
“Dulu aku selalu bilang: ini mimpiku, ini hidupku, ini masalahku.”

Ia menatap Alana dalam-dalam.

“Sekarang aku pengen belajar bilang: ini hidup kita.”

Mata Alana mulai berkaca-kaca.

“Dan kalau nanti kamu sedih… jangan bilang itu masalahmu sendiri lagi.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu nangis, harusnya aku juga ikut nenangin.”

Air mata Alana jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya ia merasa benar-benar dipeluk oleh sebuah ketulusan.

Arga menggenggam tangannya perlahan.

Hangat.

Nyaman.

Rumah.

Di luar, hujan mulai reda. Lampu-lampu kota memantul indah di jalanan yang basah.

Dan di meja kecil dekat jendela itu, dua orang yang sempat kehilangan arah akhirnya mengerti satu hal sederhana:

Dalam cinta, tidak selalu tentang milikku atau milikmu.

Kadang yang paling indah adalah saat dua hati memilih berkata—

“Semuanya… milik kita.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jasa Live Streaming

LightBlog