Pagi di Stasiun Rangkasbitung selalu ramai. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah setengah mengantuk sambil menggenggam kopi atau ponsel mereka. Suara pengumuman kereta bercampur dengan langkah kaki dan pintu otomatis yang terus terbuka-tutup.
Raka berdiri di peron sambil merapikan tas laptopnya.
Sudah hampir dua tahun ia menjalani rutinitas yang sama: naik KRL Ciujung menuju Tanah Abang, lalu lanjut bekerja di sebuah perusahaan desain kecil di Jakarta.
Hidupnya biasa saja.
Sampai suatu Senin pagi, ia melihat perempuan itu.
Seorang wanita berambut panjang dengan blazer krem dan rok hitam formal berdiri tak jauh darinya. Wajahnya cantik, tapi bukan itu yang langsung menarik perhatian Raka.
Cara perempuan itu membaca laporan di tablet sambil sesekali menggigit bibir bawahnya terlihat begitu serius dan elegan.
Bankir, pikir Raka.
Apalagi name tag kecil di tasnya bertuliskan:
“Alya Prameswari — Relationship Manager.”
Kereta datang.
Semua orang masuk cepat-cepat, termasuk Raka dan perempuan itu. Seperti biasa, gerbong penuh sesak. Tapi anehnya, pagi itu Raka terus bisa melihat Alya, meski terhalang banyak orang.
Kadang mata mereka sempat bertemu.
Kadang Alya buru-buru mengalihkan pandangan.
Hari berikutnya, Raka melihatnya lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Mereka ternyata naik kereta yang sama hampir setiap hari.
Awalnya hanya saling melihat. Lalu mulai saling tersenyum tipis. Sampai akhirnya, di suatu pagi yang hujan deras, semuanya berubah.
Kereta mendadak berhenti lama di tengah perjalanan karena gangguan sinyal.
Penumpang mulai mengeluh.
“Aduh telat meeting nih.”
“Ya ampun macet lagi.”
Raka yang berdiri dekat pintu mendengar suara kecil di sampingnya.
“Kayaknya hari ini bakal chaos.”
Ia menoleh.
Alya tersenyum kecil kepadanya.
Untuk pertama kalinya mereka bicara.
“Kayaknya iya,” jawab Raka sambil tertawa kecil. “Jakarta emang suka kasih ujian mental dari pagi.”
Alya tertawa pelan.
Dan sejak obrolan sederhana itu, semuanya terasa lebih mudah.
Mereka mulai sering berdiri berdekatan di KRL. Kadang ngobrol soal pekerjaan, kadang saling mengeluh soal bos, kadang cuma diam sambil menikmati perjalanan.
Raka baru tahu ternyata Alya bekerja di bank swasta besar di Sudirman. Pintar, mandiri, dan ternyata sangat sederhana.
Ia tidak suka pamer.
Bahkan sering membeli kopi sachet daripada kopi mahal di café stasiun.
“Aku lebih suka nabung buat travelling,” katanya suatu pagi.
“Ke mana?”
“Ke tempat yang sinyalnya jelek.”
Raka tertawa keras.
“Aneh juga ya cita-citanya.”
“Biar gak ada yang ganggu.”
Hari-hari mulai terasa berbeda bagi Raka.
Ia jadi semangat bangun pagi.
Semangat naik KRL.
Semangat menghadapi Jakarta.
Karena sekarang ada seseorang yang ia tunggu di antara padatnya gerbong Ciujung.
Namun suatu hari, Alya tidak muncul.
Raka mencoba berpikir biasa saja.
Mungkin cuti.
Mungkin sakit.
Tapi sampai tiga hari, perempuan itu tetap tidak terlihat.
Entah kenapa, gerbong terasa lebih sempit dan perjalanan terasa jauh lebih panjang.
Lalu di hari keempat, saat kereta berhenti di Palmerah, seseorang menepuk bahunya pelan.
“Nyariin saya ya?”
Raka langsung menoleh cepat.
Alya berdiri di sana sambil tersenyum jahil.
“Yaelah… kirain hilang.”
“Maaf. Kemarin aku ke Surabaya buat audit cabang.”
Raka menghela napas lega tanpa sadar.
Alya memperhatikannya lalu tersenyum lembut.
“Kamu khawatir?”
Raka terdiam sebentar.
“Iya.”
Jawaban jujur itu membuat Alya ikut diam.
Kereta kembali berjalan perlahan.
Di tengah suara rel dan padatnya penumpang pagi itu, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
Sesuatu yang lebih hangat dari sekadar teman perjalanan.
Beberapa minggu kemudian, Raka dan Alya duduk di bangku Stasiun Tanah Abang sambil menunggu hujan reda.
“Aku dulu benci naik kereta,” kata Alya pelan.
“Kenapa?”
“Capek. Sesak. Banyak drama.”
“Sekarang?”
Alya menoleh kepadanya.
“Sekarang aku suka.”
“Karena?”
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Karena ada alasan buat nunggu besok pagi.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Raka merasa kota yang keras ini akhirnya memberinya sesuatu yang indah—
Seorang bankir cantik di KRL Ciujung.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar